Di dalam blog ini tersedia pengumuman dan informasi terbaru.
Datum: Sonntag, der 22. März 2026
Uhrzeit: 15 Uhr
Ort:
Alte Nikolaikirche, Frankfurt am Main / Römerberg
Predigttext ausMarkus 10, 35-45
Da gingen zu ihm Jakobus und Johannes, die Söhne des Zebedäus, und sprachen zu ihm: Meister, wir wollen, dass du für uns tust, was wir dich bitten werden. 36 Er sprach zu ihnen: Was wollt ihr, dass ich für euch tue? 37 Sie sprachen zu ihm: Gib uns, dass wir sitzen einer zu deiner Rechten und einer zu deiner Linken in deiner Herrlichkeit. 38 Jesus aber sprach zu ihnen: Ihr wisst nicht, was ihr bittet. Könnt ihr den Kelch trinken, den ich trinke, oder euch taufen lassen mit der Taufe, mit der ich getauft werde? 39 Sie sprachen zu ihm: Ja, das können wir. Jesus aber sprach zu ihnen: Ihr werdet zwar den Kelch trinken, den ich trinke, und getauft werden mit der Taufe, mit der ich getauft werde; 40 zu sitzen aber zu meiner Rechten oder zu meiner Linken, das zu geben steht mir nicht zu, sondern das wird denen zuteil, für die es bestimmt ist. 41 Und als das die Zehn hörten, wurden sie unwillig über Jakobus und Johannes. 42 Da rief Jesus sie zu sich und sprach zu ihnen: Ihr wisst, die als Herrscher gelten, halten ihre Völker nieder, und ihre Mächtigen tun ihnen Gewalt an. 43 Aber so ist es unter euch nicht; sondern wer groß sein will unter euch, der soll euer Diener sein; 44 und wer unter euch der Erste sein will, der soll aller Knecht sein. 45 Denn auch der Menschensohn ist nicht gekommen, dass er sich dienen lasse, sondern dass er diene und sein Leben gebe als Lösegeld für viele.
(Lutherbibel 2017)
Predigt: Pfrin. Dr. Maibritt Gustrau (Evangelisches Stadtdekanat Frankfurt und Offenbach)
Musik: Paula Sabrina
Ehrenamtlicher Dienst zum Sonntag - Judika
Liturgie: Lektorin Inke Rondonuwu
Schriftlesung: Crisna Purwanto
Medien Technik: Jens Balondo
Abkündigung: Marsha Marcelina
Schlüsseldienst: Aditya Dolontelide
Vorbereitungen Gemeindetreff: Gemeinsam
Tanggal: Minggu, 22 Maret 2026
Waktu: Pukul 15:00
Tempat:
Alte Nikolaikirche, Frankfurt am Main / Römerberg
Teks Khotbah dariMarkus 10, 35-45
Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!" 36 Jawab-Nya kepada mereka: "Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?" 37 Lalu kata mereka: "Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu." 38 Tetapi kata Yesus kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?" 39 Jawab mereka: "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. 40 Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan." 41 Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. 42 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. 43 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 44 dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. 45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."
(Alkitab Terjemahan Baru 1974)
Khotbah: Pdt. Dr. Maibritt Gustrau (Dekenat Kota Gereja Protestan Frankfurt dan Offenbach)
Musik: Paula Sabrina
Pemberitahuan Pelayanan sukarela pada hari Minggu - Judika
Liturgi: Lektor Inke Rondonuwu
Pembacaan Alkitab: Crisna Purwanto
Media Tehnik: Jens Balondo
Berita Jemaat: Marsha Marcelina
Kunci: Aditya Dolontelide
Persiapan pertemuan Jemaat: Bersama
Dengan sukacita kami ingin memperkenalkan sebuah film Indonesia yang istimewa: “Na Willa”.
Di balik karya ini ada juga Reda Gaudiamo, seorang sahabat lama yang masih kami kenang dengan hangat. Sekitar sepuluh tahun yang lalu, dalam rangka pameran buku, ia pernah mengunjungi jemaat kami dan tampil bersama Ari Malibu, yang telah berpulang terlalu cepat, di Alte Nikolaikirche kami. Itu adalah momen yang indah, penuh musik, kehangatan, dan perjumpaan, yang sampai hari ini masih tinggal di hati kami.
Karena itu, kami sangat senang sekarang dapat ikut memperkenalkan karya film ini.
“Na Willa” adalah film keluarga Indonesia dari Visinema Studios, sebuah adaptasi live-action dari buku pertama dalam trilogi “Na Willa” karya Reda Gaudiamo. Film ini disutradarai dan ditulis oleh Ryan Adriandhy. Film ini mulai tayang hari ini di Indonesia, pada 18 Maret 2026, dan berlatar di Surabaya pada tahun 1960-an.
Tokoh utamanya adalah Na Willa, seorang anak perempuan sekitar enam tahun yang tinggal di sebuah gang kecil di pinggir kota. Film ini menceritakan kehidupan sehari-harinya secara konsisten dari sudut pandang seorang anak yang polos dan penuh rasa ingin tahu. Karena itu, hal-hal sederhana – tetangga, keluarga, sekolah, pertanyaan tentang manusia dan perbedaan – terasa hampir seperti sesuatu yang ajaib. Ini bukan film aksi besar, melainkan film yang hangat dan halus tentang masa kecil, keluarga, keberagaman, dan proses bertumbuh.
Yang sangat penting juga adalah identitas multikultural tokoh utamanya. Na Willa mempunyai ibu dari Nusa Tenggara Timur dan ayah keturunan Tionghoa. Dari situ muncul pertanyaan tentang rasa memiliki, perbedaan, dan cara masyarakat memberi penilaian kepada seseorang. Karya sastranya sendiri juga digambarkan sebagai karya yang menampilkan pengalaman Tionghoa-Indonesia, rasisme sehari-hari, dan keberagaman budaya.
Di situlah letak kekuatan film ini. Film ini tidak melihat tema-tema itu dari atas, tetapi dengan mata yang terbuka dan hati seorang anak. Karena itu, “Na Willa” mengajak kita melihat dunia sekali lagi dari sudut pandang anak kecil: penuh rasa ingin tahu, jujur, rapuh, dan sekaligus penuh kekaguman.
Karya aslinya juga secara jelas menunjukkan bahwa Na Willa hidup di lingkungan yang beragam dan punya rasa ingin tahu terhadap perbedaan agama. Itulah sebabnya film ini terasa sangat kuat: film ini menunjukkan betapa sejak dini anak-anak sudah berhadapan dengan pertanyaan tentang agama, identitas, etnis, dan perbedaan – dan betapa terbuka serta langsungnya mereka memandang dunia, sebelum orang dewasa memberi mereka kategori-kategori yang tetap.
Film ini dibuat berdasarkan karya Reda Gaudiamo. Sutradaranya adalah Ryan Adriandhy. Para pemainnya antara lain Luisa Adreena, Irma Rihi, Junior Liem, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, dan Arsenio Rafisqy. Dari situ juga terlihat betapa banyak orang kreatif yang ikut ambil bagian dalam proyek film yang istimewa ini.
Bagi kami juga sebagai Evangelische Indonesische Kristusgemeinde Rhein-Main (Jemaat Kristus Indonesia Rhein-Main), film ini menyentuh tema yang penting. Jemaat kami sudah bertahun-tahun hidup dari perjumpaan, keberagaman budaya, iman dalam kebersamaan, dan semangat membangun jembatan di antara orang-orang dengan latar belakang yang berbeda. Khususnya di kota internasional seperti Frankfurt dan dalam pelayanan gereja kami, pertanyaan bagaimana kita memahami perbedaan bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai kekayaan, sangatlah penting.
Dalam video singkat berikut ini, Reda sendiri dan beberapa orang lain menceritakan lebih jauh tentang kisah “Na Willa” dan mengapa cerita ini jauh melampaui sekadar film anak-anak. Terlihat dengan jelas betapa berharganya kisah ini bukan hanya untuk anak-anak, tetapi juga untuk orang tua, keluarga, dan masyarakat kita.
Karena itu, kami dengan senang hati ingin merekomendasikan “Na Willa”.
Kami sangat bersyukur karena di balik karya ini ada Reda Gaudiamo, seorang seniman yang punya kedekatan dengan jemaat kami. Kunjungannya waktu itu bersama Ari Malibu tetap menjadi tanda yang berharga bagi kami bahwa musik, seni, bahasa, dan perjumpaan dapat menghubungkan manusia melampaui batas, budaya, dan generasi.
Kiranya “Na Willa” dapat menyentuh banyak hati dan mengajak kita untuk kembali memikirkan masa kecil, keberagaman, agama, dan hidup bersama sebagai sesama manusia.
Datum: Sonntag, der 15. März 2026
Uhrzeit: 15 Uhr
Ort: Lutherkirche, Frankfurt am Main / Nordend-Ost
Predigttext ausJohannes 12, 20-24
Es waren aber einige Griechen unter denen, die heraufgekommen waren, um anzubeten auf dem Fest. 21 Die traten zu Philippus, der aus Betsaida in Galiläa war, und baten ihn und sprachen: Herr, wir wollen Jesus sehen. 22 Philippus kommt und sagt es Andreas, und Andreas und Philippus sagen’s Jesus. 23 Jesus aber antwortete ihnen und sprach: Die Stunde ist gekommen, dass der Menschensohn verherrlicht werde. 24 Wahrlich, wahrlich, ich sage euch: Wenn das Weizenkorn nicht in die Erde fällt und erstirbt, bleibt es allein; wenn es aber erstirbt, bringt es viel Frucht.
(Lutherbibel 2017)
Predigt: Pfarrerin Junita Rondonuwu-Lasut (Evangelische Indonesische Kristusgemeinde Rhein-Main)
Musik: Paula Sabrina (Piano) / Leandro Christian (Orgel)
Ehrenamtlicher Dienst zum Sonntag – Lätare
Liturgie: Pfrin. Junita Rondonuwu-Lasut
Schriftlesung: Nathania Sianturi
Abendmahl: Kirchenvorstand
Medien Technik: Jens Balondo
Abkündigung: Aditya Dolontelide
Schlüsseldienst: Pfrin. Junita Rondonuwu-Lasut
Vorbereitungen Gemeindetreff: Gruppe Sukacita
Folgende Vorbereitungen können Sie für die Teilnahme zum Abendmahl von zu Hause aus treffen.
Vorbereitungen zum Abendmahl:
Glas und Wein:
1. Bereiten Sie Gläschen entsprechend der Anzahl der Abendmahlteilnehmer vor. Wenn keine Gläschen vorhanden sind, können Sie auch normale Trinkwassergläser verwenden.
2. Bereiten Sie den Wein vor. Optional können Sie auch einen Traubensaft oder sonstige Säfte verwenden.
3. Stellen Sie alles auf dem Tisch bereit.
Brot:
1. Das Brot kann Toast oder auch normales Brot sein.
2. Das Brot kann in rechteckige Stückchen geschnitten oder zerbrochen werden.
Abendmahltisch:
Stellen Sie alles, was Sie für das Abendmahl brauchen, auf den Tisch. Wenn vorhanden, können Sie ebenfalls Kerzen und einen Kreuz aufstellen.
Tanggal: Minggu, 15 Maret 2026
Waktu: Pukul 15:00
Tempat: Lutherkirche, Frankfurt am Main / Nordend-Ost
Teks Khotbah dariYohanes 12, 20-24
Di antara mereka yang berangkat untuk beribadah pada hari raya itu, terdapat beberapa orang Yunani. 21 Orang-orang itu pergi kepada Filipus, yang berasal dari Betsaida di Galilea, lalu berkata kepadanya: "Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus." 22 Filipus pergi memberitahukannya kepada Andreas; Andreas dan Filipus menyampaikannya pula kepada Yesus. 23 Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan. 24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.
(Alkitab Terjemahan Baru 1974)
Khotbah: Pendeta Junita Rondonuwu-Lasut (Jemaat Kristus Indonesia Rhein-Main)
Musik: Paula Sabrina (Piano) / Leandro Christian (Orgel)
Pemberitahuan Pelayanan pada hari Minggu – Lätare
Liturgi: Pdt. Junita Rondonuwu-Lasut
Pembacaan Alkitab: Nathania Sianturi
Perjamuan Kudus: Majelis Jemaat
Media Tehnik: Jens Balondo
Berita Jemaat: Aditya Dolontelide
Kunci: Pdt. Junita Rondonuwu-Lasut
Persiapan pertemuan Jemaat: Grup Sukacita
Dibawah ini petunjuk untuk Perjamuan Kudus dirumah pada hari Minggu
Perlengkapan yang disiapkan
Gelas dan Anggur:
1. Siapkan sloki sesuai dengan jumlah peserta perjamuan. Jika tidak ada sloki, pakai gelas weine. Jika tidak ada gelas weine, boleh pakai gelas air minum biasa.
2. Siapkan anggur (Wein). Jika tidak ada Wein boleh gunakan trauben saft. Jika tidak ada traubensaft boleh pakai saft apa saja.
3. Tuangg Weine atau saft kedalam sloki atau gelas secukupnya.
Roti:
1. Roti boleh roti Toast atau roti biasa.
2. Roti boleh dipotong segi empat teratur, atau dicabik (dipecahkan).
Meja Perjamuan:
Taruh peralatan perjamuan Kudus diatas meja. Pasang lilin, khiasan salib (kalau ada).
Datum: Sonntag, der 08. März 2026
Uhrzeit: 15 Uhr
Ort:
Alte Nikolaikirche, Frankfurt am Main / Römerberg
Die Geschichte von Frau Jato: Die Last religiöser Verfolgung und die Kraft des Glaubens
In diesem Gottesdienst hören wir die Geschichte von Frau Jato, einer christlichen Mutter aus Nordnigeria, die im Schatten religiöser Verfolgung lebt. Mit dem Herzen einer Mutter erzählt sie von Angst, innerem Ringen, aber auch von Hoffnung und von der Kraft des Glaubens, die sie jeden Tag trägt, wenn sie ihre Tochter zur Schule schickt. Diese Geschichte zeigt uns, dass das Leben im Glauben nicht immer leicht ist. Inmitten von Bedrohung, Gewalt und Unsicherheit hält Frau Jato an der Liebe Christi fest. Sie entscheidet sich gegen Hass und für Gebet, Vergebung und Hoffnung. Durch ihr Zeugnis werden wir daran erinnert, dass Gott seine Menschen nicht verlässt. Jesus lädt uns ein, mit allem, was uns belastet, zu ihm zu kommen. In ihm finden wir Trost, innere Ruhe und neue Kraft, auch in schweren Zeiten. Die Geschichte von Frau Jato ruft uns zugleich dazu auf, für Menschen zu beten, die wegen ihres Glaubens verfolgt werden, und in jedem Menschen das Ebenbild Gottes zu erkennen. So werden wir ermutigt, im Glauben standhaft zu bleiben, in der Hoffnung festzuhalten und in der Liebe zu wachsen.
https://weltgebetstag.de/
Predigt: Pfrin. Junita Rondonuwu-Lasut (Ev. Indonesische Kristusgemeinde Rhein-Main / Jemaat Kristus Indonesia Rhein-Main)
Musik: Leandro Christian
Ehrenamtlicher Dienst zum Sonntag - Okuli
Liturgie: Riany Lengkong + Frauenkreis
Schriftlesung: Rita Kreißl
Medien Technik: Dayvan Foenale
Abkündigung: Jens Balondo
Schlüsseldienst: Pfrin. Junita Rondonuwu-Lasut
Vorbereitungen Gemeindetreff: Gruppe Damai Sejahtera
Tanggal: Minggu, 08 Maret 2026
Waktu: Pukul 15:00
Tempat:
Alte Nikolaikirche, Frankfurt am Main / Römerberg
Kisah Ibu Jato: Beban Penganiayaan Agama dan Kekuatan Iman
Dalam ibadah ini, kita akan mendengarkan kisah Ibu Jato, seorang ibu Kristen dari Nigeria utara yang hidup di tengah bayang-bayang penganiayaan agama. Dengan hati seorang ibu, ia menceritakan ketakutan, pergumulan, tetapi juga pengharapan dan kekuatan iman yang ia pegang setiap hari ketika melepas anaknya pergi ke sekolah. Kisah ini mengajak kita untuk melihat bahwa hidup dalam iman tidak selalu mudah. Di tengah ancaman, kekerasan, dan rasa takut, Ibu Jato tetap berpegang pada kasih Kristus. Ia belajar untuk tidak membalas dengan kebencian, melainkan tetap hidup dalam doa, pengampunan, dan pengharapan. Melalui kisah ini, kita diingatkan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Yesus memanggil kita untuk datang kepada-Nya dengan segala beban hidup kita. Di dalam Dia, kita menemukan kekuatan, ketenangan, dan keberanian untuk tetap berjalan dalam kasih, bahkan di tengah situasi yang sulit. Kisah Ibu Jato juga mengajak kita untuk berdoa bagi mereka yang mengalami penganiayaan karena iman, serta belajar melihat setiap manusia sebagai ciptaan Allah yang berharga. Dengan demikian, kita diajak untuk semakin setia dalam iman, teguh dalam pengharapan, dan hidup dalam kasih. Falls du möchtest, formuliere ich dir daraus auch noch eine etwas kürzere Web-Ankündigung oder eine feierlichere Version für den Gottesdienstablauf.
https://worlddayofprayer.net/
Khotbah: Pdt. Junita Rondonuwu-Lasut (Jemaat Kristus Indonesia Rhein-Main / Ev. Indonesische Kristusgemeinde Rhein-Main)
Musik: Leandro Christian
Pemberitahuan Pelayanan sukarela pada hari Minggu - Okuli
Liturgi: Riany Lengkong + Persekutuan Perempuan
Pembacaan Alkitab: Rita Kreißl
Media Tehnik: Dayvan Foenale
Berita Jemaat: Jens Balondo
Kunci: Pdt. Junita Rondonuwu-Lasut
Persiapan pertemuan Jemaat: Kelompok Damai Sejahtera
Tanggal: 27.02.2026
Tempat: Heiliggeistkirche di Dominikanerkloster · Frankfurt am Main
Minggu lalu, kami dari Jemaat Kristus Indonesia Rhein-Main (JKI) bersama Jemaat St. Paul (Ev.-luth.) serta Dekanat Evangelis Frankfurt dan Offenbach melepas Pendeta Andrea Braunberger-Myers dari tugas pelayanannya di Frankfurt.
Ibadah perpisahan di Heiliggeistkirche berlangsung dengan penuh penghargaan dan banyak momen yang menyentuh. Bagi kami sebagai JKI, perpisahan ini terasa sangat khusus, karena selama puluhan tahun jemaat kami saling terhubung erat—melalui pemakaian ruang bersama, perayaan-perayaan bersama, dan “bertetangga” sebagai jemaat yang dari tahun ke tahun makin melampaui urusan organisasi semata.
Banyak dari kami mengingat tahun-tahun kebersamaan di gedung jemaat lama di Römerberg 9: perayaan-perayaan, perjumpaan, dan hal-hal kecil yang sering tidak terlihat, tetapi justru membangun kebersamaan. Ibadah di hutan (Waldgottesdienst) dan ibadah Tahun Baru juga sangat berkesan—dan tentu saja acara memanggang/grill sederhana di halaman, saat kami bisa bertemu sebagai sesama manusia, di luar jadwal dan pembagian tugas.
Bagian yang sangat berkesan bagi kedua jemaat adalah masa pindahan dan persiapan hingga perayaan pentahbisan (Einweihungsfest) di rumah jemaat bersama “Hinter dem Lämmchen”. Masa itu cukup menguras energi bagi banyak dari kami—namun sekaligus menjadi momen ketika kami merasakan dukungan satu sama lain secara nyata.
Sesudah ibadah, diadakan resepsi di kapal Primus. Ketua jemaat kami menyampaikan sambutan, dan bersama pendeta kami menyerahkan sebuah buket bunga besar yang berwarna-warni sebagai tanda terima kasih.
Salah satu momen istimewa malam itu adalah penampilan kelompok tari Pesona Indonesia & Friends. Dengan tarian dari Kalimantan, mereka menghadirkan suasana yang hidup dan penuh warna—sebuah ungkapan budaya Indonesia, sekaligus tanda bahwa kehidupan bergereja di Frankfurt sungguh beragam.
Sambutan Ketua Jemaat kami (Bahasa Indonesia):
Hadirin yang kami hormati,
Ibu Pendeta Andrea Braunberger-Myers yang kami kasihi,
Jemaat St. Paul yang kami hormati,
serta para perwakilan dari Dekanat Evangelis Frankfurt dan Offenbach yang kami hormati,Hari ini saya berdiri di sini sebagai Ketua Jemaat Kristus Indonesia Rhein-Main (JKI), dan saya bersyukur bisa menyampaikan beberapa kata dari jemaat kami.
Ibu Pendeta Andrea Braunberger-Myers memulai pelayanannya di Jemaat St. Paul pada tahun 1988. Ini bukan sekadar “beberapa tahun”, melainkan sebuah masa pelayanan yang sangat panjang dan berpengaruh—bagi jemaat, bagi kota ini, dan juga bagi kami sebagai jemaat tetangga.
Karena selama puluhan tahun, jemaat kita berbagi ruang dan tempat pelayanan. Dan itu bukan hanya soal “berada di gedung yang sama”, melainkan sebuah kebersamaan yang sungguh-sungguh bertumbuh menjadi hubungan bertetangga yang nyata.
Ketika saya mengingat perjalanan panjang ini, saya tidak pertama-tama teringat pada struktur organisasi atau rencana ruangan, melainkan pada momen-momen yang konkret: perayaan-perayaan bersama di gedung jemaat lama di Römerberg 9, ibadah di hutan (Waldgottesdienst), ibadah Tahun Baru, dan juga acara memanggang/grill bersama di halaman—sederhana, tetapi sangat mengikat hati.
Saya juga teringat pada masa yang cukup menguras energi, sampai akhirnya kita bisa merayakan ibadah syukur peresmian (Einweihungsfest) di rumah jemaat bersama “Hinter dem Lämmchen”. Pada masa itu, kami menyadari: ini bukan hanya soal ruangan. Ini tentang kesabaran, ketekunan, dan saling menopang. Tentang saling membantu ketika situasi terasa sempit. Dan tentang tetap bertahan, karena perjalanan bersama ini memang berarti.
Setelah lebih dari 35 tahun, kami bisa mengatakan dengan jujur: kami telah belajar banyak satu sama lain. Kadang lewat hal-hal kecil dalam keseharian—bagaimana mengatur sesuatu, bagaimana berkomunikasi, bagaimana mencari jalan keluar ketika keadaan tidak mudah. Dan juga melalui pengalaman bahwa gereja bisa berjalan dengan baik, ketika orang-orang dengan latar belakang yang berbeda tetap mau memikul tanggung jawab bersama.
Pada saat yang sama, kami juga merasakan: pengetahuan dan pengalaman ini tidak boleh berhenti pada mereka yang sudah lama ada. Ini perlu diteruskan—kepada generasi berikutnya, dan kepada orang-orang baru yang bergabung, baik di jemaat St. Paul maupun di jemaat kami. Karena banyak hal sedang berubah, dan tidak semuanya menjadi lebih mudah. Justru karena itu, apa yang sudah bertumbuh selama puluhan tahun perlu dijaga dan diteruskan dengan sadar.
Ibu Pendeta Andrea Braunberger-Myers, kami mengucapkan terima kasih atas cara Ibu menjalankan peran Ibu selama perjalanan panjang ini: atas kesetiaan dan keandalan, atas kejelasan ketika diperlukan, dan atas sikap yang membuka ruang untuk perjumpaan—termasuk di antara jemaat-jemaat yang memiliki latar budaya yang berbeda.
Sekarang, sebuah babak baru dimulai bagi Ibu: Ibu akan melanjutkan pelayanan sebagai pendeta di Wetterau. Kami sungguh mendoakan awal yang baik—dengan sukacita dalam tugas yang baru, dengan pintu-pintu yang terbuka, dan dengan orang-orang yang menyambut Ibu sehingga Ibu dapat cepat merasa “di rumah”.
Kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Jemaat St. Paul dan kepada Dekanat, karena perjalanan panjang yang kita jalani bersama ini dimungkinkan dan tetap terjaga. Bagi kami, itu bukan hal yang otomatis. Ini adalah tanda yang kuat bahwa gereja di kota seperti Frankfurt dapat bekerja sama secara nyata.
Ibu Pendeta Andrea Braunberger-Myers: terima kasih untuk pelayanan Ibu di Frankfurt—dan terima kasih untuk kebersamaan kita sebagai “tetangga” selama begitu banyak tahun.
Terima kasih.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Pendeta Andrea Braunberger-Myers atas pelayanannya di Frankfurt, atas banyak perjumpaan, dan atas perjalanan kebersamaan yang boleh kami jalani sebagai jemaat yang bertetangga. Untuk pelayanan barunya di Wetterau, kami mendoakan awal yang baik, sukacita dalam tugas yang baru, serta orang-orang yang menyambutnya dengan hati terbuka dan penuh kepercayaan.